Berkisah, Sebelum Nabi Muhammad Shallaahu 'Alaihi Wasallam Lahir - Bagian 5

Senin, 25 Januari 2021

 


Silsilah Nabi Muhammad Shallaahu ‘Alaihi Wasallam

Kita kembali pada kisah Abdullah bin Abdul Muthalib yang tidak jadi disembelih karena telah ditebus ayahnya dengan seratus ekor unta.

Abdullah adalah pemuda yang berwajah tampan. Kegagahan fisiknya banyak menarik perhatian gadis-gadis Mekah. Apalagi setelah mereka tahu bahwa nyawa Abdullah telah ditebus dengan serratus ekor unta, suatu jumlah luar biasa yang tidak pernah dialami seorang pun sebelumnya. Walaupun banyak gadis yang berusaha menggodanya, kesopanan Abdullah tetap terjaga.

Abdullah adalah ayah Nabi Muhammad shallaahu ‘alaihi wasallam. Berikut ini adalah silsilah Nabi Muhammad shallaahu ‘alaihi wasallam.



Khadijah

Di dalam silsilah di atas akan kita lihat nama Khadijah. Khadijah adalah istri Nabi Muhammad Shallaahu ‘alaihi wasallam. Nabi Muhammad dan Khadijah berasal dari nenek moyang yang sama, yaitu Qushay. Karena berkerabat sebagai sepupu jauh, Khadijah pernah memanggil Nabi Muhammad dengan sebutan “Wahai putra pamanku.”

 

Gadis yang Meminang

Sesaat setelah penebusan Abdullah, Abdul Muthalib menggandeng tangan putranya menuju rumah Wahb bin Abdul Manaf. Wahb mempunyai seorang putri bernama Aminah. Abdul Muthalib sudah sepakat dengan Wahb untuk menikahkan putra-putri mereka.

Namun di tengah jalan, seorang gadis cantic menegur Abdullah, “Engkau akan pergi kemana wahai Abdullah?”

“Aku akan pergi bersama ayahku.”

Tanpa memedulikan Abdul Muthalib, gadis itu berkata, “Kulihat engkau memang dituntun ayahmu, tak ubahnya seperti seekor unta yang akan disembelih. Demi engkau, aku akan menerimamu jika engkau mau menikahiku sekarang juga.”

Abdullah terperangah. Dia menatap gadis itu dengan gugup.

“Siapakah gadis ini?” pikir Abdullah. “Dilihat dari pakaiannya yang dipenuhi perhiasan mahal, ia pasti seorang gadis bangsawan. Matanya yang hitam memancarkan sinar yang teduh seperti yang biasa dimiliki gadis-gadis berperangai lemah lembut dan penuh kasih saying. Apa yang harus kukatakan kepadanya?”

Ketika Abdullah menoleh kepada ayahnya, dilihatnya Abdul Muthalib memberi isyarat agar Abdullah terus melangkah dan tidak menggubris dan gadis.

“Aku bersama ayahku, aku tak kuasa menolak kehendaknya dan berpisah dengannya.”

Abdullah kembali berjalan bersama ayahnya, hatinya pun dipenuhi rasa iba dan simpatinya kepada gadis yang ditinggalkannya. Hari itu juga, Abdul Muthalib datang ke rumah Wahb bin abdi Manaf. Mereka sepakat menjodohkan Abdullah dengan Aminah.

Keesokan harinya, Abdullah bertemu lagi dengan gadis yang kemarin. Abdullah menyapanya, “Mengapa engkau tidak menyapaku seperti kemarin?”

Gadis itu menjawab dengan ketus, “Sinar berseri-seri yang kemarin kulihat pada wajahmu sudah tidak ada lagi karena itu sekarang aku sudah tidak membutuhkanmu!”

 

Sinar Kenabian

Sinar berseri-seri yang dilihat sang gadis pada wajah Abdullah. Menurut sebagian ahli sejarah adalah sinar kenabian yang akan diturunkan Allah kepada putranya ketika dijodohkan dengan Aminah, gadis itu tidak dapat lagi berharap akan memiliki putra yang kelak menjadi nabi.

 

Pernikahan Abdullah dengan Aminah

Allah sudah menentukan bahwa jodoh yang paling tepat untuk Abdullah adalah Aminah binti Wahb. Aminah adalah gadis yang paling baik keturunan dan kedudukannya di kalangan suku Quraisy.

Musim semi tahun 570 masehi pun tiba, batang-batang gandum di Yaman tumbuh menjulang tinggi. Daun dan kurma di kota Thaif kembali bersemi. Sementara itu padang-padang rumput dipenuhi harum bunga bunga yang tumbuh di kebun-kebun.

Bagi penduduk Mekah, musim semi adalah tanda kebebasan dan dimulainya lagi perdagangan musim panas ke Syria. Abdullah pun berniat pergi musim ini.

“Kanda, sebenarnya hatiku sangat berat melepas kepergianmu, entah mengapa hatiku diliputi kekhawatiran dan kegelisahan. Aku bahkan berharap dapat menemukan suatu alasan untuk menahan kepergianmu,” keluh Aminah kepada suaminya.

Abdullah tersenyum menentramkan. “Hatiku pun terasa tertinggal di sini dinda, aku tahu begitu besar rasa sayangmu kepadaku sehingga engkau berharap dapat terus berada disisiku.”

“Bukan cuma itu, damai rasanya berada disampingmu kanda.”

Abdullah mengangguk, “Tetapi dinda, kini di dalam perutmu ada bayi. Kita tahu aku adalah pemuda tak berada saat ini, kita hanya mempunyai lima ekor unta dan beberapa kambing. Selain itu, tidak ada lagi kekayaan yang dapat menghidupi kita berdua selain sedikit kurma dan daging kering. Karena itu inilah saatnya bagi kita untuk pergi berniaga dan menambah penghasilan kita.”

Aminah terpaksa mengangguk menerima kenyataan itu. Dia memandang kepergian Abdullah dengan sendu. Seolah saat itu adalah detik-detik terakhir dia dapat melihat wajah suaminya apa yang dirasakan Aminah pun terbukti.


Hamzah bin Abdul Muthalib

Pada hari pernikahan Abdullah dengan Aminah, Abdul Muthalib pun menikahi sepupunya yang bernama Hala. Dari perkawinan ini lahirlah Hamzah paman Rasulullah shallaahu álaihi wa sallam yang seusia dengan beliau.


Wafatnya Abdullah

Bersama kafilah dagang, Abdullah tiba di Gaza kemudian dalam perjalanan pulang, ia singgah di Yatsrib. Di sana ia tinggal bersama saudara-saudara ibunya namun ketika kawan-kawannya dari Mekah hendak mengajaknya pulang, Abdullah jatuh sakit.

“Rasanya aku tak akan kuat menempuh perjalanan pulang,” kata Abdullah kepada kawan-kawannya. “Kalian berangkatlah dan sampaikan pesan kepada ayahku bahwa aku jatuh sakit.”

Kawan-kawannya mengangguk, “Akan kami sampaikan pesanmu. Baik-baiklah engkau disini.”

Kafilah Mekah pun beranjak pulang. Ketika tiba di rumah, mereka menyampaikan pesan Abdullah kepada Abdul Muthalib.

“Harits!” panggil Abdul Muthalib kepada putra sulungnya. Pergilah ke Yatsrib, lihatlah keadaan adikmu. Jika sudah sembuh, jemputlah ia pulang.”

Harits pun segera berangkat. Ketika tiba di rumah paman-pamannya di yatsrib, yang ditempuhnya adalah wajah-wajah duka.

“Abdullah telah meninggal,” kata mereka kepadanya, “mari kami antar engkau pusaranya.”

Haris pun menyampaikan berita sedih itu ke Mekah. Melelehlah air mata di pipi Abdul Muthalib, namun kesedihan yang paling berat dirasakan oleh Aminah. Apalagi saat itu ia telah menantikan kelahiran bayinya.

“Selamat jalan kanda,” isak Aminah,  “hilanglah seluruh kebahagiaan hidupku bersamamu. Kini, tinggalah aku yang hidup untuk membesarkan bayi kita.”

Tak lama lagi, bayi Aminah akan lahir. Bayi Aminah akan lahir. Bayi yang kelak ditakdirkan Allah menjadi orang besar yang mengubah jalannya sejarah dunia.

 

Peninggalan Abdullah

Saat meninggal, peninggalan Abdullah berupa lima ekor unta, sekelompok ternak kambing dan seekor kuda perempuan bernama Ummu aiman yang telah menjadi pengasuh Rasulullah shallaahu ‘alaihi wa sallam,nama aslinya adalah Barakah, ia berasal dari Habasyah.

 

Sumber : Muhammad Teladanku Jilid ke Satu. Kelahiran Rasulullah Shallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Eka Wardhana dan Tim Syaamil Books.

Berkisah, Sebelum Nabi Muhammad Shallaahu 'Alaihi Wasallam Lahir - Bagian 4

Sabtu, 23 Januari 2021


Berdzanar

Abdul Muthalib berdzanar, “Kalau saja aku mempunyai sepuluh anak laki-laki, kemudian setelah semuanya dewasa, aku tidak memeroleh anak lagi seperti ketika sedang menggali sumur zam-zam, maka salah seorang diantara sepuluh anak itu akan kusembelih di Ka’bah sebagai kurban untuk Tuhan.”

Ternyata takdir memang menentukan demikian, Abdul Muthalib akhirnya mendapat sepuluh orang anak laki-laki. Setelah semua anak beranjat dewasa, dia tidak lagi memeroleh anak. Dipanggilnya kesepuluh orang anak itu termasuk si bungsu Abdullah yang amat disayangi dan dicintainya.

“Aku pernah bernadzar untuk menyembelih salah seorang dari kalian jika Tuhan memberiku sepuluh orang anak laki-laki.”

Kesepuluh anaknya terdiam. Mereka memahami persoalan itu. Mereka juga melihat kebingungan yang luar biasa di mata ayah mereka yang berkaca-kaca.

“Namun, aku tidak bias menentukan siapa di antara kalian yang harus kusembelih. Oleh karena itu, aku berniat memanggil juru qidh. Kemudian, dia mengocok anak panah tersebut di hadapan berhala Hubal. Nama anak yang keluar adalah Abdullah.

Melihat itu, serentak orang-orang Quraisy datang dan melarangnya melakukan perbuatan itu.

“Batalkan keinginanmu Abdul Muthalib! Mohon ampunlah kepada Hubal supaya kamu bisa membatalkan nadzarmu.”

 

Tebusan Seratus Unta

Dengan membajakan hati, Abdul Muthalib menuntun Abdullah menuju sebuah tempat di dekat sumur zam-zam yang terletak di antara dua berhala Isaf dan Na’ila. Di tempat itulah biasanya orang-orang Mekah melakukan pengurbanan hewan untuk dewa-dewa mereka. Namun, masyarakat semakin keras menghalangi Abdul Muthalib melakukan niatnya. Akhirnya, kekerasan hatinya pun luluh.

“Baiklah, tetapi apa yang harus kulakukan agar berhala tetap berkenan kepadaku?”

“Kalau penebusannya dapat dilakukan dengan harta kita, kita tebuslah,” kata Mughirah bin Abdullah dari suku Makhzum.

Setelah diadakan perundingan, mereka sepakat menemui seorang dukun di Yatsrib.

“Berapa tebusan kalian?” Tanya dukun wanita itu.

“Sepuluh ekor unta.”

“Kembalilah ke negeri kalian. Sediakan tebusan sepuluh ekor unta. Kemudian undi antara unta dan anak itu. Jika yang keluar nama anak kamu, tambahkan jumlah untanya, kemudian undi lagi sampai nama unta yang keluar.”

Mereka pulang dengan lega dan segera mengundi dengan anak panah. Ternyata, yang keluar adalah nama Abdullah. Mereka menambahkan tebusan unta dan mengundi lagi. Lagi-lagi nama Abdullah yang keluar. Demikianlah, Abdul Muthalib menambah dan menambah terus jumlah unta. Ketika jumlah unta sudah mencapai seratus ekor, barulah nama unta yang keluar.

“Dewa sudah berkenan,” seru orang-orang.

“Tidak,” bantah Abdul Muthalib. “Harus dilakukan sampai tiga kali.”

Akhirnya, setelah tiga kali dikocok, yang keluar adalah nama unta. Seratus ekor unta itu pun disembelih dan dibiarkan begitu saja tanpa disentuh manusia dan hewan karena mereka beranggapan bahwa unta itu untuk dewa.

 

Keturunan Dua Orang yang Disembelih

Diriwayatkan dari Rasulullah Shallaahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Aku adalah anak dua orang yang disembelih.” Yang dimaksud oleh beliau adalah Nabi Ismail nenek moyangnya dan Abdullah, ayahnya.

 

Si Penguasa Yaman

Saat Abdul Muthalib memimpin Mekah,ada sebuah peristiwa dahsyat. Kejadian ini bermula dari Yaman, sebuah negeri yang terletak jauh di sebelah selatan Mekah. Saat itu, Yaman diperintah oleh seorang penguasa bernama Abrahah  Al-Asyram.

“Aku tidak habis pikir, mengapa setiap tahun seluruh bangsa Arab datang ke tanah Mekah?” seru Abrahah kepada para menterinya.

“Paduka tahu di sana ada sebuah bangunan bernama Ka’bah. Bangunan tua itu begitu disucikan oleh penduduk Jazirah Arab sehingga mereka tidak dapat berpaling darinya. Ke sanalah mereka pergi beribadah menyembah para dewa sepanjang tahun,” jawab salah seorang menteri.

“Apa istimewanya bangunan tua yang terbuat dari batu kasar itu? Aku ingin negeri kita, Yaman, mempunyai sebuah rumah suci juga. Sebuah rumah suci yang akan dikunjungi seluruh orang dari penjuru jazirah. Sebuah rumah suci yang akan membuat bangunan tua di Mekah itu menjadi tidak berarti lagi dan dilupakan orang.”

“Namun, apa mungkin kita bisa membuat rumah suci baru yang bisa menandingi Ka’bah?”

“Mengapa tidak? Buat sebuah gereja yang sangat indah! Hiasi dengan perlengkapan mewah yang kita miliki! Gerbang emas, jendela perak, lantai pualam yang berkilau! Semuanya! Kerahkan seluruh ahli bangunan! Aku ingin gereja itu selesai dalam waktu singkat!”

Tidak lama kemudian, berdirilah sebuah gereja seindah yang diinginkan Abrahah. Sang penguasa Yaman itu mengunjunginya dengan rasa puas.

“Lihat, tidak lama lagi, seluruh orang Arab akan dating ke sini! Kata Abrahah kepada bawahannya. “Bahkan orang Mekah akan melupakan rumah tua mereka begitu melihat bangunan seindah ini!”

 

Bendungan Ma’rib

Penduduk asli Yaman adalah kaum Saba’. Sebelum datangnya Islam, negeri Yaman telah terkenal dengan kemajuan teknologi bangunannya. Slah satu bangunan yang amat terkenal adalah Bendungan Raksasa Ma’rib. Ketika bendungan ini jebol, banjir besar melanda daerah sekitarnya sehingga para penduduk terpaksa pindah ke negeri lain.

 

Penyerbuan

Ternyata, apa yang diharapkan Abrahah tidak terjadi. Orang-orang Arab sudah mencintai rumah purba Ka’bah sehingga mereka tidak dapat berpaling ke rumah suci lain, betapa pun indahnya bangunan itu dibuat. Orang-orang Arab merasa ziarah mereka tidak sah jika tidak mengunjungi Ka’bah. Bahkan, penduduk Yaman sendiri tidak mengindahkan rumah suci baru itu. Seperti biasa, mereka tetap berbondong-bondong berziarah ke Mekah.

“Tidak ada jalan lain!” geram Abrahah. “Gerakkan pasukangajah kita! Serbu dan hancurkan Ka’bah! Aku sendiri yang akan memimpinnya! Jika bangunan tua itu hancur dan rata dengan tanah, orang-orang Arab tidak akan punya pilihan lainselain datang ke tempat kita!”

Sang penguasa Yaman memang ditakuti orang karena pasukan gajah yang dimilikinya. Abrahah sendiri naik di atas seekor gajah yang paling besar dan kuat.

“Maju!” Perintahnya.

Terompet pun membahana dan bumi seolah pecah oleh gemuruh pasukan yang maju ke medan perang. Mendengar keberangkatan pasukan ini untuk menghancurkan Ka’bah, penduduk Jazirah Arab terkejut bukan kepalang. Walaupun tahu pasukan Abrahah begitu kuat, jiwa kepahlawanan orang-orang Arab menjulang di hadapan musuh.

Dzu Nafar, seorang bangsawan Arab mengerahkan masyarakatnya untuk menahan gerak maju Abrahah. Akan tetapi, dia dikalahkan dan ditawan. Nufail bin Habib Al Khathámi memimpin pasukan Kabilah Syahran dan Nahis. Namun, dia juga dikalahkan dan dijadikan penunjuk jalan pasukan Abrahah.

Sementara itu, apa yang akan dilakukan Abdul Muthalib ketika mendengar sebuah pasukan besar datang menuju negerinya untuk menghancurkan rumah suci Ka’bah?

 

Al-Qullayus

Al-Qullayus adalah nama gereja yang dibangun Abrahah agar orang tidak pergi haji ke Mekah, tetapi ke gereja ini. Mengetahui maksud Abrahah ini, bangsa Areb marah karena kecintaan mereka pada Ka’bah sudah mendarah daging.Bahkan bangsa dari suku Kinani malah pergi memasuki Al-Qullayus dan membuat kerusakan di dalamnya. Peristiwa inilah yang memicu Abrahah menghancurkan Ka’bah.

 

Sikap Penduduk Mekah

“Kita lawan mereka, Abdul Muthalib!” Berikan peringatan kepada setiap orang untuk bertempur!”

Orang-orang Quraisy di Mekah panik. Mereka meminta pendapat Abdul Muthalib untuk bertempur. Abdul Muthalib tahu, sekeras apapun mereka melawan, semuanya akan sia-sia. Pasukan Mekah akan ditaklukkan. Karena itu,dia menjawab dengan bijak, “Tidak, kita tidak akan mampu. Seorang utusan Abrahah telah tiba dan menyampaikan keterangan bahwa Abrahah tidak akan memerangi kita. Abrahah hanya ingin menghancurkan Ka’bah. Kita akan selamat jika tidak menghalanginya. Aku sarankan semua orang pergi mengungsi ke gunung-gunung di sekeliling kota.”

Abdul Muthalib kemudian mendatangi markas Abrahah bersama beberapa orang pemuka Mekah.

“Kembalikan unta-unta kami yang dirampas pasukanmu.” Kata Abdul Muthalib kepada Abrahah.

“Akan kukembalikan unta-unta itu! Apakah ada hal lain yang engkau minta?” Tanya Abrahah.

“Urungkan niatmu untuk menghancurkan Ka’bah. Jika engkau mau, kami akan berikan sepertiga harta dari daerah Tihama yang subur.”

Abrahah menggeleng, “Tidak!”

“Kalau begitu, kami serahkan pengamanan Ka’bah kepada Tuhan pemilik Ka’bah!” jawab Abdul Muthalib, lalu dia pergi.

Kini, kota Mekah kosong melompong. Penduduknya telah mengungsi. Jalan lebar terbuka bagi Abrahah untuk menghancurkan Ka’bah yang letaknya sudah di depan mata.

 

Abrahah Al-Asyram

Abrahah Al-Asyram bukanlah penduduk asli Yaman. Ia datang dari negeri Habasyah di Afrika untuk menduduki Yaman. Tujuh puluh ribu pasukan Habasyah yang dipimpin Aryath berhasil mengalahkan Yaman. Namun, Aryath kemudian dibunuh oleh Abrahah. Sejak itulah Abrahah memerintah di Yaman.

 

Kehancuran Abrahah

Allah lah yang melindungi rumah suci-Nya. Ketika pasukan Abrahah bergerak mendekat, gajah Abrahah tiba-tiba berhenti . Sekeras apa pun Abrahah memukulnya, gajah itu tetap duduk tenang, bahkan akhirnya berusaha berjalan kembali kea rah Yaman.

“Maju! Maju! Apa yang terjadi pdamu!” bentak Abrahah pada tunggangannya. “Dalam berbagai medan pertempuran, pelum pernah kamu mengecewakan aku seperti ini! Kamu bahkan tampak ketakutan! Ada apa sebenarnya?”

“Paduka, ada yang datang dari arah laut!” teriak seorang prajurit sambal menunjuk-nunjuk panik.

Saat itulah, dari arah laut, Allah mengirim kawanan burung yang kepakkan sayapnya menutupi sinar matahari seperti iringan awan mendung yang bergerak cepat. Burung-burung itu menjatuhkan batu-batu menyala ke arah pasukan gajah. Dengan panik, setiap orang berusaha menyelamatkan diri tetapi sia-sia. Semua orang mati kecuali Abrahah yang berhasil kembali ke Yaman. Peristiwa penyerbuan tentara bergajah ini sangat luar biasa, maka tahun ini diberi nama ‘Aamul Fiil, yang artinya Tahun Gajah. Peristiwa ini Allah abadikan dalam surat Al-Fiil ayat satu sampai lima.

“Tidakkah engkau Muhammad perhatikan, bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah? Bukankah dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar sehingga mereka dijadikan-Nya seperti daun-daun yang dimakan ulat.”


Sumber : Muhammad Teladanku Jilid ke-Satu. Kelahiran Rasulullaah Shallaahu ‘Alaihi Wasallam. Eka Wardhana dan Tim Syaamil Books


Berkisah, Sebelum Nabi Muhammad Shallaahu 'Alaihi Wassallam Lahir - Bagian 3

Jumat, 22 Januari 2021


Muthalib

Suatu hari Hasyim pergi berdagang menuju Syam, ketika melewati Yatsrib yang kemudian disebut Madinah Hasyim melihat seorang wanita baik-baik dan terpandang

“Siapakah wanita itu?” tanya Hasyim kepada orang-orang Yatsrib. “Dia adalah Salma binti Amr.”

“Apakah dia telah bersuami?”

 “Suaminya telah tiada, kini dia seorang janda.”

Mendengar itu, Hasyim melamar Salma dan Salma pun menerimanya. Mereka lalu menikah. Hasyim tinggal di Yatsrib beberapa lama. Ketika Salma mengandung, Hasyim melanjutkan perniagaannya. Namun itulah kali terakhir Salma melihat suaminya karena Hasyim tidak pernah kembali lagi, dia meninggal dunia di Palestina.

Salma melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Syaibah. Sementara itu, sepeninggal Hasyim, kedudukannya sebagai pemuka masyarakat Mekah dipegang oleh adik Hasyim yang bernama Al-Muththalib.

Al-Muthalib juga seorang laki-laki terpandang yang dicintai penduduk Mekah. Orang-orang Quraisy menjulukinya sebagai dengan sebutan Al-Fayyadh yang berarti sangat dermawan. Suatu hari dia mendengar bahwa Syaibah keponakannya yang tinggal di Yatsrib sedang tumbuh remaja.

“Aku harus menemuinya,” pikir Al-Muthalib. “Dia adalah anak kakakku dulu, ayahnya adalah pemuka Mekah maka dia harus pulang untuk melanjutkan kekuasaan ayahnya menggantikan aku.”

Ketika Al-Muthalib bertemu Syaibah di Yatsrib, dia tersentak, “Anak ini benar-benar mirip Hasyim.”

“Mari nak ikut Paman ke Mekah,” Peluk Al-Muthalib.

“Tetapi jika ibu tidak mengizinkan pergi, aku akan tetap tinggal di sini,” jawab Syaibah.

 

Syaibah

Nama Syaibah diberikan karena ada rambut putih uban di kepalanya sejak dia kecil. Selain Syaibah, Hasyim telah memiliki empat  putra dan lima putri yang tinggal di Mekah.

 

Nama Abdul Muthalib

“Tidak, aku tidak akan membiarkannya pergi,” jawab Salma. “Dia buah hatiku satu-satunya, wajahnya yang senantiasa mengingatkan aku akan wajah ayahnya.”

“Aku juga menyayangi Hasyim,” jawab Al-Muthalib. “Bukan cuma itu, tetapi penduduk kota Mekah juga menyayanginya. Mereka pasti akan senang sekali menyambut kedatangan putra Hasyim, begitu melihat wajah anak ini rasa sayangku timbul kepadanya seolah-olah aku melihat Hasyim hidup kembali dan berdiri dihadapanku. Izinkan aku membawanya pergi. Sesungguhnya Mekah adalah kerajaan ayahnya dan Mekah adalah tanah suci yang dicintai oleh seluruh bangsa Arab, tidakkah pantas putramu pergi kesana dan melanjutkan pemerintahan ayahnya?.”

Salma memandang Syaibah dengan mata berkaca-kaca. Hatinya ingin agar putra satu-satunya itu tetap tinggal di sisi-nya namun dia tahu masa depan Syaibah bukan di Yatsrib melainkan di Mekah. Akhirnya dia pun mengangguk. “Baiklah, ku izinkan dia pergi.

Dengan amat gembira, Al-Muthalib mengajak keponakannya itu pulang. Syaibah duduk membonceng unta di belakang pamannya. Ketika mereka tiba di Mekah, orang-orang menyangka bahwa anak yang duduk di belakang Al-Muthalib adalah budaknya.

“Abdul Muthalib (budak Al Muthalib), Abdul Muthalib!” panggil mereka kepada Syaibah.

“Celaka kalian, dia bukan bundakku, dia anak saudaraku, Hasyim!”

Namun orang-orang terlanjur menyebutnya demikian sehingga akhirnya nama Syaibah pun terlupakan. Setelah itu, dia dikenal dengan nama Abdul Muthalib, dia kelak menjadi kakek Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Setelah tumbuh dewasa, Abdul Muthalib pun menjadi seorang pemuka Mekah sebagaimana Hasyim bapaknya.

Pada zaman pemerintahannya, Abdul Muthalib melakukan sebuah perbuatan yang akan dikenang orang sepanjang masa, apakah itu?.


Harta Abdul Muthalib

Setelah Hasyim meninggal, hartanya dikuasai oleh Naufal, adiknya yang terkecil. Ketika dewasa, Abdul Muthalib hendak meminta harta ayahnya tetapi Naufal menolak. Abdul Muthalib pun meminta bantuan kerabat ibunya yang tinggal di Yatsrib. Orang-orang Yatsrib mengirimkan delapan puluh pasukan berkuda. Naufal pun ketakutan dan menyerahkan harta Hasyim kepada Abdul Muthalib.

 

Menggali sumur zam-zam

Saat itu sumur zam-zam telah terkubur dan dilupakan orang selama ratusan tahun. Namun Abdul Muthalib tidak pernah lupa pada sejarah Mekah. Bahwa dulu pernah ada mata air yang menghidupi Mekah. Mata air yang memancar keluar oleh kaki Ismail.

“Aku harus menemukannya,” pikir Abdul Muthalib. “Aku harus menemukan kembali sumur zam-zam yang telah dilupakan orang, apalagi aku bertugas menyediakan air dan makanan bagi penduduk Mekah.”

Pikiran seperti itu tidak pernah hilang dari benaknya. “Aku harus menemukannya, aku harus menemukannya!”

Setelah itu Abdul Muthalib mengambil tembilang dan memanggil putra satu-satunya Harits. “Temani ayah mencari dan menggali kembali sumur zam-zam.”

Harits mengangguk kemudian mereka mulai mencari di mana dulu letak mata air zam-zam berada. Setelah beberapa kali mencoba menggali di beberapa tempat, sumur zam-zam tidak juga ditemukan.

“Ayah mungkin sumur zamzam memang telah hilang,” kata Harits.

“Tidak nak, Ayah yakin sumur itu masih ada, kita harus menemukannya. “Orang-orang Mekah akan hidup lebih baik jika sumur zamzam ada di tengah kita.”

Dengan gigih keduanya pun terus mencari. Orang-orang Quraisy penduduk asli Mekah, melihat perbuatan mereka dengan heran.

“Mengapa engkau masih terus menggali Abdul Muthalib? bukankah dulu kakek moyang kita Mudzaz bin Amr pernah menggalinya tapi tidak berhasil?”

Abdul Muthalib menaruh tembilangnya dan duduk, “Ya ratusan tahun yang lalu, Mudzaz bin Amr mertua Nabi Ismail pernah mencoba menggali zam-zam tapi tidak berhasil padahal saat itu Mudzaz telah mempersembahkan sesaji berupa pedang dan pelana berpangkal emas agar sumur zam-zam ditemukan.”

 

Sumber air Mekah

Abdul Muthalib adalah pengurus air dan makanan bagi tamu-tamu yang datang ke Mekkah. Setelah ratusan tahun sumur zam-zam tertimbun, air harus didatangkan dari beberapa sumur yang terpancar pancar di sekitar Mekah.

 

Menemukan Zam-Zam

Malam harinya dengan tubuh lelah Abdul Muthalib tidur. Tiba-tiba dalam tidur dia bermimpi mendengar suara yang bergema berulang-ulang. “Temukan sumur zam-zam itu wahai Abdul Muthalib, ditemukan sumur zamzam, temukan!”

Abdul Muthalib terbangun dengan keyakinan dan semangat baru. Esoknya dia mengajak harus menggali dan menggali dengan lebih giat. Rasa heran orang-orang Quraisy yang melihatnya berubah menjadi tawa.

“Kasihan Abdul Muthalib, mungkin dia sudah kehilangan akal sehatnya,” kata mereka satu sama lain.

Suatu saat, ketika mereka sedang menggali di antara berhala Isaf dan Na’ila air membersit.

“Air! Harits. Lihat ada air!” seru Abdul Muthalib saking kagetnya.

“Ayo kita gali terus ayah, ayo gali terus!”

Ketika mereka menggali lebih dalam, tampaklah pedang-pedang dan pelana emas yang pernah ditaruh oleh Mudzaz bin Amr dahulu. “Melihat penemuan itu, orang-orang Quraisy datang berbondong-bondong.

“Abdul Muthalib, mari kita berbagi air dan harta emas itu!” pinta mereka.

“Tidak, tetapi marilah kita mengadu nasib antara aku dan kamu sekalian dengan permainan qidh (anak panah) dua anak panah buat Ka'bah, dua buat aku dan dua buat kamu. Kalau anak panah itu keluar, dia mendapat bagian, kalau tidak dia tidak mendapat apa-apa.”

Usul itu disetujui. Juru qidh mengundinya di tengah-tengah berhala di depan Ka'bah. Ternyata anak panah Quraisy tidak ada yang keluar, pemenangnya adalah Abdul Muthalib dan Ka'bah. Karenanya dapatlah Abdul Muthalib meneruskan tugasnya mengurus air dan keperluan para tamu Mekah. Setelah sumur zam-zam memancar kembali, mengingat beratnya tugas itu, Abdul Muthalib sangat ingin agar dia mempunyai banyak anak laki-laki yang membantunya. Apakah keinginannya terkabul?.

 

Pedang dan Pelana Emas

Abdul Muthalib memasang pedang-pedang itu di pintu Ka'bah sedangkan pelana-pelana emas ditaruh di dalam rumah suci itu sebagai perhiasan.

 

 


Sumber : Muhammad Teladanku Jilid ke-Satu. Kelahiran Rasulullah Shallaahu ‘Alaihi Wasallam. Eka Wardhana dan Tim Syaamil Books

Berkisah, Sebelum Nabi Muhammad Shallaahu 'Alaihi Wasallam Lahir - Bagian 2

Kamis, 21 Januari 2021

 


Penyembelihan Ismail

Allah ingin menguji Nabi Ibrahim manakah yang lebih beliau cintai, Allah atau Ismail. Melalui mimpi, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih putra kesayangannya itu.

Saat pagi hari tiba, Nabi Ibrahim memanggil Ismail,  “Anakku, dalam tidur ayah bermimpi menyembelihmu, apa pendapatmu nak?”

“Ayah jika ini kehendak Allah, lakukan apa yang diperintahkan kepadamu, jangan takut Ayah, in syaa Allah aku termasuk orang yang sabar.”

Nabi Ibrahim memeluk Ismail erat-erat dengan penuh haru. “Ayah mencintaimu ayah bangga kepadamu.”

Nabi Ibrahim membawa Ismail jauh dari rumah. Ketika sampai di tempat dia akan disembelih, Ismail berkata, “Ayah jangan ragu, lakukanlah perintah Allah ini. Kalau ayah akan menyembelihku, ikat aku kuat-kuat agar ayah tidak terkena darahku, aku takut darahku mengotori bajumu sehingga pahalaku berkurang. Ayah jangan ragu jika melihat aku gelisah, karena itu, tajamkanlah parang ayah agar dapat memotongku sekaligus.  Telungkupkan wajahku ayah, jangan dimiringkan, aku khawatir ayah bisa melihat wajahku dan jadi ragu melaksanakan perintah Allah. Kalau ayah merasa bajuku dapat menghibur ibu, berikanlah baju ini kepada ibu.”

“Anakku..”, bisik Nabi Ibrahim. “Ketabahanmu menguatkan ketabahan ayah.”

Ketika Nabi Ibrahim akan menyembelih putranya, Allah mengganti Ismail dengan seekor domba yang besar disertai panggilan, “Hai Ibrahim, engkau telah melaksanakan mimpi itu.”

Nabi Ibrahim dan Ismail bersujud penuh syukur, mereka telah membuktikan bahwa mereka mencintai Allah melebihi segalanya.

 

Melempar Jumroh

Iblis tiga kali menggoda Nabi Ibrahim di tengah perjalanan menuju tempat penyembelihan putranya. Nabi Ibrahim marah dan melempar iblis tiga kali dengan kerikil. Allah mengabadikan peristiwa itu dalam ibadah haji. Setiap jamaah haji melontar kerikil di tiga tempat dimana iblis menggoda masing-masing yang disebut jumroh ula, jumrah wustha dan jumrah aqabah.

 

Membangun Ka'bah

Setelah Ismail tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan Shalih, Nabi Ibrahim memanggilnya, “Anakku, Allah memerintahkan kita membangun Baitullah dekat sumur zam-zam.”

“Dengan izin Allah aku akan membantumu.” Jawab Ismail.

Kemudian keduanya bekerja keras mengangkat batu-batu, membelah dan meratakannya. Sementara itu Nabi Ibrahim menyusunnya menjadi sebuah bangunan agar dapat meletakkan batu-batu di tempat yang tinggi. Nabi Ibrahim berpijak di atas sebuah batu. Jika satu bagian telah selesai dikerjakan, beliau memindahkannya ke bagian lain sebagai tempat pijakan lagi, demikian dilakukan terus sampai seluruh bagian Ka'bah selesai dibangun.

Telapak kaki Nabi Ibrahim membekas di atas batu pijakan tersebut. Jika kita pergi ke Masjidil Haram, kita dapat melihatnya dalam sebuah rongga berkaca. Batu itu dinamakan maqam Ibrahim artinya tempat berpijak Nabi Ibrahim.

Setelah menyelesaikan pembangunan ka'bah, Nabi Ibrahim dan Ismail berdoa, “Ya Allah, terimalah apa yang telah kami kerjakan, Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Kemudian Allah memerintahkan agar tempat itu dijaga kesucian dan kebersihannya sebagai tempat beribadah thawaf, ruku dan sujud. Setelah itu Nabi Ibrahim kembali ke Palestina.

 

Keturunan Nabi Ismail

Tak lama kemudian, Ismail menikah namun belum berapa lama rasa gembira itu berubah duka karena Bunda hajar wafat. Ismail amat kehilangan ibunya, betapa tidak, dia ditinggal oleh orang yang sangat dia sayangi dan menyayanginya. Mendengar istrinya wafat, Nabi Ibrahim yang telah berusia lanjut datang ke Mekah.

Ketika tiba di rumah Ismail, Nabi Ibrahim diterima oleh menantunya.

“Bagaimana kehidupan kalian?”, tanya Nabi Ibrahim.

Hidup kami susah dan terlalu sederhana, bahkan sekarang pun saya tidak dapat menemukan apa-apa kepada bapak,” keluh istri Ismail.

Nabi Ibrahim termenung, dia pun berdiri dan pamit. “Sampaikan kedatanganku kepada Ismail, katakan juga kepadanya bahwa aku ingin agar dia mengganti gerbang rumah ini.” Ketika Ismail pulang, istinya menyampaikan pesan ini.

“Itu ayahku,” kata Ismail. “Pesan itu memerintahkan agar saya menceraikanmu karena kamu tidak berlapang dada dalam menjalani hidup kita yang sederhana.”

Setelah melaksanakan pesan ayahnya, Ismail menikahi wanita yang lain. Suatu saat Nabi Ibrahim datang berkunjung, beliau diterima oleh menantunya yang baru.

“Bagaimana kehidupan bersama Ismail?” tanya Nabi Ibrahim.

“Alhamdulillah, Ismail adalah suami yang penyayang, rajin bekerja dan selalu membimbing saya di jalan Allah. Kami hidup berbahagia.”

Nabi Ibrahim tersenyum, “Sampaikan kedatanganku kepada Ismail, katakan juga kepadanya bahwa aku menyukai gerbang rumahnya.”

Ketika Ismail datang istrinya menyampaikan pesan Nabi Ibrahim. “Alhamdulillah aku menyukaimu karena engkau yang sholehah.” Ismail tersenyum.

Ismail pun kemudian diangkat menjadi seorang nabi. Putra-putra beliaulah yang menjadi nenek moyang Nabi Muhammad.

 

Nenek moyang Nabi Muhammad

Salah seorang nenek moyang Nabi Muhammad bernama Hasyim bin Abdul Manaf. Dia adalah pemuka masyarakat dan orang yang berkecukupan. Masyarakat Mekah mematuhi dan menghormatinya.

“Wahai penduduk Mekah, aku membagi perjalanan kalian menurut musim. Jika musim dingin tiba, pergilah berdagang ke Yaman yang hangat. Jika musim panas, giliran kalian pergi ke Syam yang sejuk!” demikian keputusan Hasyim.

Hasyim tambah disayang penduduk Mekah karena pada suatu musim kemarau yang mencekam dia pernah membawa persediaan makanan dari tempat yang jauh padahal saat itu makanan amat sulit didapat.

“Terima kasih wahai engkau menolong kami dengan pemberian makanan ini!” seru penduduk Mekah.

Dibawah kepemimpinan Hasyim, mekah berkembang menjadi pusat perdagangan yang makmur. Pasar-pasar dijadikan sebagai tempat berniaga, kafilah-kafilah dagang yang datang dan pergi silih berganti baik pada musim panas maupun pada musim dingin. demikian pandainya penduduk Mekah berdagang, sampai-sampai tidak ada pihak lain yang mampu menyaingi mereka.

Akan tetapi, disamping kemajuan besar itu, masyarakat Arab juga mengalami kemunduran luar biasa. Itulah sebabnya mereka dijuluki masyarakat jahiliyah alias masyarakat yang diliputi kebodohan. Itulah juga sebabnya sampai Allah mengutus rasul terakhirnya di tempat ini. Apa saja yang dilakukan bangsa Arab saat itu sehingga mereka dijuluki masyarakat jahiliyah?.

 

Pembagian urusan

Beberapa jabatan pemerintahan di Mekah, diantaranya hijabah pemegang kunci Ka'bah, siqayah penyedia air dan makanan buat para peziarah, rifadah mengatur pembagian dana dari orang kaya untuk fakir miskin, qiyadah mengatur urusan peperangan.

 

Percaya takhayul

“Oh tidak, burung itu terbang ke kiri, aku pasti akan tertimpa sial!” umpat seseorang. Orang itu kebetulan melihat seekor burung yang terbang diatas kepalanya berbelok ke arah kiri. Sepanjang hari itu dia jadi murung karena yakin bahwa diberi bernasib sial walaupun belum tahu kesialan macam apa yang akan menimpanya.

Orang-orang Arab pada masa jahiliyah amat percaya pada takhayul, contohnya mereka percaya jika burung yang mereka lihat terbang ke kiri nasib sial akan menimpa mereka. Sebaliknya jika burung kebetulan terbang ke kanan, nasib baik akan dating. Kepercayaan semacam ini disebut At-tahayyur.

Selain itu mereka percaya bahwa jika seorang mati, rohnya akan menjadi burung. Mereka juga percaya bahwa di dalam perut manusia ada ular, ular inilah yang menggigit di dalam perut sehingga orang merasa lapar.

“Lihat cincin tembaga aku ini!” kata seorang kepada temannya dengan bangga.” “Cincin ini adalah pemberian seorang dukun kepadaku, tidak sia-sia aku memberinya uang banyak agar membuatkan ini. Jangan coba-coba menantangku berkelahi sekarang. Berkat cincin ini aku merasa jauh lebih kuat.”

Masih banyak kebodohan serupa yang mereka perlihatkan. Mereka juga amat setia menyembah berhala-berhala berbentuk patung. Jika mereka meminta pertolongan kepada berhala, tidak segan-segan mereka mengorbankan binatang ternak dan mengoleskan darahnya di tubuh, bahkan terkadang mereka sampai hati mengorbankan anak-anaknya sendiri demi mengharap keridhaan berhala.

Selain melakukan kebodohan kebodohan itu mereka masih melakukan banyak sekali hal-hal yang merusak.

 

Awal mula penyembahan berhala

Awal mula penyembahan berhala di Mekah adalah ketika seorang bernama Amar bin Luhay membawa berhala besar bernama Hubal yang dibelinya dari daerah Syam. Di Mekkah berhala Hubal ditaruh di Ka'bah dan disuruhnya orang-orang datang menyembahnya. Menjelang penaklukan Mekah oleh Nabi Muhammad, Ka’bah dipenuhi oleh tiga ratus enam puluh berhala yang terbuat dari batu, kayu, perak bahkan emas.

 

Gemar Mabuk dan Berjudi

Bangsa Arab pada masa itu sangat gemar meminum arak. Hampir semua orang adalah peminum kecuali beberapa saja yang tidak.

“Bawa kemari minumannya! Kita minum sambil berjudi.”, kata seseorang kepada teman-temannya.

Para pelayan datang membawakan baki dan botol-botol minuman. Orang-orang datang berkumpul sambil tertawa. “Hei panggil para penari!”, perintah tuan rumah.

Para penari dating, disambut tepuk tangan dan sorak sorai. Ketika minuman mulai membuat mereka mabuk, seseorang kembali berseru, “Bawakan alat-alat judi kemari!”.

Orang pun membawakan alat-alat judi berupa bilah-bilah kayu dan sebuah kantong kulit beberapa ekor unta dipotong, yang kalah berjudi harus membayar unta-unta tersebut. Selain berjudi dengan memotong unta, mereka juga berjudi dengan bermacam-macam cara. Demikianlah minum sambil berjudi adalah kebiasaan yang amat digemari oleh bangsa Arab saat itu. Bahkan setelah Nabi Muhammad mengajarkan Islam, masih banyak para pemeluk baru agama ini yang masih suka meminum arak sampai turunlah perintah Allah yang berangsur-angsur mengharamkan orang meminum minuman keras.

 

Barm

Judi memotong unta adalah judi yang paling digemari orang Arab jahiliyah. Bilah-bilah kayu dikocok dalam kantung dan dibagikan, orang yang mendapat undian kosong dinyatakan kalah dan harus membayar unta yang dipotong. Daging unta kemudian dibagikan kepada fakir miskin, orang yang tidak suka berjudi semacam ini dipandang sebagai seorang yang kikir yang biasa disebut Barm.

 

Perampok Kejam dan Tidak Sopan

Mencuri dan merampok saat itu adalah hal yang biasa. Hanya sebagian kecil saja orang yang tidak pernah melakukannya. Perampok pun bukan hanya mengincar harta dan benda tetapi juga orang yang dirampok. Perampok biasa menjadikan orang-orang yang telah dirampoknya menjadi tawanan dan budak belian.

Saat itu perilaku bangsa Arab amat kejam sampai melewati batas perikemanusiaan. Anak-anak perempuannya sendiri mereka bunuh, ada yang dikubur hidup-hidup kedalam tanah, ada pula yang ditaruh ke dalam tong dan diluncurkan dari tempat yang tinggi, mereka malu jika mempunyai anak perempuan.

Mereka juga suka menyiksa binatang, jika seseorang mati, keluarganya mengikat unta di atas kuburan dan tidak memberikan makan serta minum sampai si unta itu mati. Mereka beranggapan unta itu kelak akan menjadi tunggangan si mati.

Musuh yang tertangkap diperlakukan sangat kejam. Mereka biasa mengikat musuh pada seekor unta dan membiarkan kuda tersebut berlari, sehingga orang yang diikat itu mati terseret-seret. Telinga atau hidung musuh yang kalah dijadikan kalung serta tengkoraknya dijadikan tempat minum arak. Orang jahiliyah juga tidak mengenal sopan santun mereka biasa berkeliling Ka'bah tanpa memakai pakaian. Begitulah kebiasaan orang-orang Arab pada saat itu. Mereka adalah bangsa yang maju perdagangannya, pandai membuat perkakas, membuat obat, ahli astronomi serta mahir bersyair namun mereka juga mempunyai banyak kebiasaan buruk.

 

Memakan Bangkai Binatang

Dalam urusan makan dan minum pun tidak ada yang tidak dilarang segala macam binatang boleh dimakan. Binatang yang sudah mati pun disayat dagingnya, dibakar dan dimakan. Mereka juga suka meminum darah binatang dan memakan darah yang dibekukan.



Sumber : Buku Muhammad Teladanku Jilid ke-Satu. Kelahiran Rasulullah Shallaahu ‘Alaihi Wasallam. Eka Wardhana dan Tim Syaamil Books