Berkisah, Sebelum Nabi Muhammad Shallaahu 'Alaihi Wasallam Lahir - Bagian 2

Kamis, 21 Januari 2021

 


Penyembelihan Ismail

Allah ingin menguji Nabi Ibrahim manakah yang lebih beliau cintai, Allah atau Ismail. Melalui mimpi, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih putra kesayangannya itu.

Saat pagi hari tiba, Nabi Ibrahim memanggil Ismail,  “Anakku, dalam tidur ayah bermimpi menyembelihmu, apa pendapatmu nak?”

“Ayah jika ini kehendak Allah, lakukan apa yang diperintahkan kepadamu, jangan takut Ayah, in syaa Allah aku termasuk orang yang sabar.”

Nabi Ibrahim memeluk Ismail erat-erat dengan penuh haru. “Ayah mencintaimu ayah bangga kepadamu.”

Nabi Ibrahim membawa Ismail jauh dari rumah. Ketika sampai di tempat dia akan disembelih, Ismail berkata, “Ayah jangan ragu, lakukanlah perintah Allah ini. Kalau ayah akan menyembelihku, ikat aku kuat-kuat agar ayah tidak terkena darahku, aku takut darahku mengotori bajumu sehingga pahalaku berkurang. Ayah jangan ragu jika melihat aku gelisah, karena itu, tajamkanlah parang ayah agar dapat memotongku sekaligus.  Telungkupkan wajahku ayah, jangan dimiringkan, aku khawatir ayah bisa melihat wajahku dan jadi ragu melaksanakan perintah Allah. Kalau ayah merasa bajuku dapat menghibur ibu, berikanlah baju ini kepada ibu.”

“Anakku..”, bisik Nabi Ibrahim. “Ketabahanmu menguatkan ketabahan ayah.”

Ketika Nabi Ibrahim akan menyembelih putranya, Allah mengganti Ismail dengan seekor domba yang besar disertai panggilan, “Hai Ibrahim, engkau telah melaksanakan mimpi itu.”

Nabi Ibrahim dan Ismail bersujud penuh syukur, mereka telah membuktikan bahwa mereka mencintai Allah melebihi segalanya.

 

Melempar Jumroh

Iblis tiga kali menggoda Nabi Ibrahim di tengah perjalanan menuju tempat penyembelihan putranya. Nabi Ibrahim marah dan melempar iblis tiga kali dengan kerikil. Allah mengabadikan peristiwa itu dalam ibadah haji. Setiap jamaah haji melontar kerikil di tiga tempat dimana iblis menggoda masing-masing yang disebut jumroh ula, jumrah wustha dan jumrah aqabah.

 

Membangun Ka'bah

Setelah Ismail tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan Shalih, Nabi Ibrahim memanggilnya, “Anakku, Allah memerintahkan kita membangun Baitullah dekat sumur zam-zam.”

“Dengan izin Allah aku akan membantumu.” Jawab Ismail.

Kemudian keduanya bekerja keras mengangkat batu-batu, membelah dan meratakannya. Sementara itu Nabi Ibrahim menyusunnya menjadi sebuah bangunan agar dapat meletakkan batu-batu di tempat yang tinggi. Nabi Ibrahim berpijak di atas sebuah batu. Jika satu bagian telah selesai dikerjakan, beliau memindahkannya ke bagian lain sebagai tempat pijakan lagi, demikian dilakukan terus sampai seluruh bagian Ka'bah selesai dibangun.

Telapak kaki Nabi Ibrahim membekas di atas batu pijakan tersebut. Jika kita pergi ke Masjidil Haram, kita dapat melihatnya dalam sebuah rongga berkaca. Batu itu dinamakan maqam Ibrahim artinya tempat berpijak Nabi Ibrahim.

Setelah menyelesaikan pembangunan ka'bah, Nabi Ibrahim dan Ismail berdoa, “Ya Allah, terimalah apa yang telah kami kerjakan, Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Kemudian Allah memerintahkan agar tempat itu dijaga kesucian dan kebersihannya sebagai tempat beribadah thawaf, ruku dan sujud. Setelah itu Nabi Ibrahim kembali ke Palestina.

 

Keturunan Nabi Ismail

Tak lama kemudian, Ismail menikah namun belum berapa lama rasa gembira itu berubah duka karena Bunda hajar wafat. Ismail amat kehilangan ibunya, betapa tidak, dia ditinggal oleh orang yang sangat dia sayangi dan menyayanginya. Mendengar istrinya wafat, Nabi Ibrahim yang telah berusia lanjut datang ke Mekah.

Ketika tiba di rumah Ismail, Nabi Ibrahim diterima oleh menantunya.

“Bagaimana kehidupan kalian?”, tanya Nabi Ibrahim.

Hidup kami susah dan terlalu sederhana, bahkan sekarang pun saya tidak dapat menemukan apa-apa kepada bapak,” keluh istri Ismail.

Nabi Ibrahim termenung, dia pun berdiri dan pamit. “Sampaikan kedatanganku kepada Ismail, katakan juga kepadanya bahwa aku ingin agar dia mengganti gerbang rumah ini.” Ketika Ismail pulang, istinya menyampaikan pesan ini.

“Itu ayahku,” kata Ismail. “Pesan itu memerintahkan agar saya menceraikanmu karena kamu tidak berlapang dada dalam menjalani hidup kita yang sederhana.”

Setelah melaksanakan pesan ayahnya, Ismail menikahi wanita yang lain. Suatu saat Nabi Ibrahim datang berkunjung, beliau diterima oleh menantunya yang baru.

“Bagaimana kehidupan bersama Ismail?” tanya Nabi Ibrahim.

“Alhamdulillah, Ismail adalah suami yang penyayang, rajin bekerja dan selalu membimbing saya di jalan Allah. Kami hidup berbahagia.”

Nabi Ibrahim tersenyum, “Sampaikan kedatanganku kepada Ismail, katakan juga kepadanya bahwa aku menyukai gerbang rumahnya.”

Ketika Ismail datang istrinya menyampaikan pesan Nabi Ibrahim. “Alhamdulillah aku menyukaimu karena engkau yang sholehah.” Ismail tersenyum.

Ismail pun kemudian diangkat menjadi seorang nabi. Putra-putra beliaulah yang menjadi nenek moyang Nabi Muhammad.

 

Nenek moyang Nabi Muhammad

Salah seorang nenek moyang Nabi Muhammad bernama Hasyim bin Abdul Manaf. Dia adalah pemuka masyarakat dan orang yang berkecukupan. Masyarakat Mekah mematuhi dan menghormatinya.

“Wahai penduduk Mekah, aku membagi perjalanan kalian menurut musim. Jika musim dingin tiba, pergilah berdagang ke Yaman yang hangat. Jika musim panas, giliran kalian pergi ke Syam yang sejuk!” demikian keputusan Hasyim.

Hasyim tambah disayang penduduk Mekah karena pada suatu musim kemarau yang mencekam dia pernah membawa persediaan makanan dari tempat yang jauh padahal saat itu makanan amat sulit didapat.

“Terima kasih wahai engkau menolong kami dengan pemberian makanan ini!” seru penduduk Mekah.

Dibawah kepemimpinan Hasyim, mekah berkembang menjadi pusat perdagangan yang makmur. Pasar-pasar dijadikan sebagai tempat berniaga, kafilah-kafilah dagang yang datang dan pergi silih berganti baik pada musim panas maupun pada musim dingin. demikian pandainya penduduk Mekah berdagang, sampai-sampai tidak ada pihak lain yang mampu menyaingi mereka.

Akan tetapi, disamping kemajuan besar itu, masyarakat Arab juga mengalami kemunduran luar biasa. Itulah sebabnya mereka dijuluki masyarakat jahiliyah alias masyarakat yang diliputi kebodohan. Itulah juga sebabnya sampai Allah mengutus rasul terakhirnya di tempat ini. Apa saja yang dilakukan bangsa Arab saat itu sehingga mereka dijuluki masyarakat jahiliyah?.

 

Pembagian urusan

Beberapa jabatan pemerintahan di Mekah, diantaranya hijabah pemegang kunci Ka'bah, siqayah penyedia air dan makanan buat para peziarah, rifadah mengatur pembagian dana dari orang kaya untuk fakir miskin, qiyadah mengatur urusan peperangan.

 

Percaya takhayul

“Oh tidak, burung itu terbang ke kiri, aku pasti akan tertimpa sial!” umpat seseorang. Orang itu kebetulan melihat seekor burung yang terbang diatas kepalanya berbelok ke arah kiri. Sepanjang hari itu dia jadi murung karena yakin bahwa diberi bernasib sial walaupun belum tahu kesialan macam apa yang akan menimpanya.

Orang-orang Arab pada masa jahiliyah amat percaya pada takhayul, contohnya mereka percaya jika burung yang mereka lihat terbang ke kiri nasib sial akan menimpa mereka. Sebaliknya jika burung kebetulan terbang ke kanan, nasib baik akan dating. Kepercayaan semacam ini disebut At-tahayyur.

Selain itu mereka percaya bahwa jika seorang mati, rohnya akan menjadi burung. Mereka juga percaya bahwa di dalam perut manusia ada ular, ular inilah yang menggigit di dalam perut sehingga orang merasa lapar.

“Lihat cincin tembaga aku ini!” kata seorang kepada temannya dengan bangga.” “Cincin ini adalah pemberian seorang dukun kepadaku, tidak sia-sia aku memberinya uang banyak agar membuatkan ini. Jangan coba-coba menantangku berkelahi sekarang. Berkat cincin ini aku merasa jauh lebih kuat.”

Masih banyak kebodohan serupa yang mereka perlihatkan. Mereka juga amat setia menyembah berhala-berhala berbentuk patung. Jika mereka meminta pertolongan kepada berhala, tidak segan-segan mereka mengorbankan binatang ternak dan mengoleskan darahnya di tubuh, bahkan terkadang mereka sampai hati mengorbankan anak-anaknya sendiri demi mengharap keridhaan berhala.

Selain melakukan kebodohan kebodohan itu mereka masih melakukan banyak sekali hal-hal yang merusak.

 

Awal mula penyembahan berhala

Awal mula penyembahan berhala di Mekah adalah ketika seorang bernama Amar bin Luhay membawa berhala besar bernama Hubal yang dibelinya dari daerah Syam. Di Mekkah berhala Hubal ditaruh di Ka'bah dan disuruhnya orang-orang datang menyembahnya. Menjelang penaklukan Mekah oleh Nabi Muhammad, Ka’bah dipenuhi oleh tiga ratus enam puluh berhala yang terbuat dari batu, kayu, perak bahkan emas.

 

Gemar Mabuk dan Berjudi

Bangsa Arab pada masa itu sangat gemar meminum arak. Hampir semua orang adalah peminum kecuali beberapa saja yang tidak.

“Bawa kemari minumannya! Kita minum sambil berjudi.”, kata seseorang kepada teman-temannya.

Para pelayan datang membawakan baki dan botol-botol minuman. Orang-orang datang berkumpul sambil tertawa. “Hei panggil para penari!”, perintah tuan rumah.

Para penari dating, disambut tepuk tangan dan sorak sorai. Ketika minuman mulai membuat mereka mabuk, seseorang kembali berseru, “Bawakan alat-alat judi kemari!”.

Orang pun membawakan alat-alat judi berupa bilah-bilah kayu dan sebuah kantong kulit beberapa ekor unta dipotong, yang kalah berjudi harus membayar unta-unta tersebut. Selain berjudi dengan memotong unta, mereka juga berjudi dengan bermacam-macam cara. Demikianlah minum sambil berjudi adalah kebiasaan yang amat digemari oleh bangsa Arab saat itu. Bahkan setelah Nabi Muhammad mengajarkan Islam, masih banyak para pemeluk baru agama ini yang masih suka meminum arak sampai turunlah perintah Allah yang berangsur-angsur mengharamkan orang meminum minuman keras.

 

Barm

Judi memotong unta adalah judi yang paling digemari orang Arab jahiliyah. Bilah-bilah kayu dikocok dalam kantung dan dibagikan, orang yang mendapat undian kosong dinyatakan kalah dan harus membayar unta yang dipotong. Daging unta kemudian dibagikan kepada fakir miskin, orang yang tidak suka berjudi semacam ini dipandang sebagai seorang yang kikir yang biasa disebut Barm.

 

Perampok Kejam dan Tidak Sopan

Mencuri dan merampok saat itu adalah hal yang biasa. Hanya sebagian kecil saja orang yang tidak pernah melakukannya. Perampok pun bukan hanya mengincar harta dan benda tetapi juga orang yang dirampok. Perampok biasa menjadikan orang-orang yang telah dirampoknya menjadi tawanan dan budak belian.

Saat itu perilaku bangsa Arab amat kejam sampai melewati batas perikemanusiaan. Anak-anak perempuannya sendiri mereka bunuh, ada yang dikubur hidup-hidup kedalam tanah, ada pula yang ditaruh ke dalam tong dan diluncurkan dari tempat yang tinggi, mereka malu jika mempunyai anak perempuan.

Mereka juga suka menyiksa binatang, jika seseorang mati, keluarganya mengikat unta di atas kuburan dan tidak memberikan makan serta minum sampai si unta itu mati. Mereka beranggapan unta itu kelak akan menjadi tunggangan si mati.

Musuh yang tertangkap diperlakukan sangat kejam. Mereka biasa mengikat musuh pada seekor unta dan membiarkan kuda tersebut berlari, sehingga orang yang diikat itu mati terseret-seret. Telinga atau hidung musuh yang kalah dijadikan kalung serta tengkoraknya dijadikan tempat minum arak. Orang jahiliyah juga tidak mengenal sopan santun mereka biasa berkeliling Ka'bah tanpa memakai pakaian. Begitulah kebiasaan orang-orang Arab pada saat itu. Mereka adalah bangsa yang maju perdagangannya, pandai membuat perkakas, membuat obat, ahli astronomi serta mahir bersyair namun mereka juga mempunyai banyak kebiasaan buruk.

 

Memakan Bangkai Binatang

Dalam urusan makan dan minum pun tidak ada yang tidak dilarang segala macam binatang boleh dimakan. Binatang yang sudah mati pun disayat dagingnya, dibakar dan dimakan. Mereka juga suka meminum darah binatang dan memakan darah yang dibekukan.



Sumber : Buku Muhammad Teladanku Jilid ke-Satu. Kelahiran Rasulullah Shallaahu ‘Alaihi Wasallam. Eka Wardhana dan Tim Syaamil Books

















Posting Komentar