Berkisah, Sebelum Nabi Muhammad Shallaahu 'Alaihi Wassallam Lahir - Bagian 3

Jumat, 22 Januari 2021


Muthalib

Suatu hari Hasyim pergi berdagang menuju Syam, ketika melewati Yatsrib yang kemudian disebut Madinah Hasyim melihat seorang wanita baik-baik dan terpandang

“Siapakah wanita itu?” tanya Hasyim kepada orang-orang Yatsrib. “Dia adalah Salma binti Amr.”

“Apakah dia telah bersuami?”

 “Suaminya telah tiada, kini dia seorang janda.”

Mendengar itu, Hasyim melamar Salma dan Salma pun menerimanya. Mereka lalu menikah. Hasyim tinggal di Yatsrib beberapa lama. Ketika Salma mengandung, Hasyim melanjutkan perniagaannya. Namun itulah kali terakhir Salma melihat suaminya karena Hasyim tidak pernah kembali lagi, dia meninggal dunia di Palestina.

Salma melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Syaibah. Sementara itu, sepeninggal Hasyim, kedudukannya sebagai pemuka masyarakat Mekah dipegang oleh adik Hasyim yang bernama Al-Muththalib.

Al-Muthalib juga seorang laki-laki terpandang yang dicintai penduduk Mekah. Orang-orang Quraisy menjulukinya sebagai dengan sebutan Al-Fayyadh yang berarti sangat dermawan. Suatu hari dia mendengar bahwa Syaibah keponakannya yang tinggal di Yatsrib sedang tumbuh remaja.

“Aku harus menemuinya,” pikir Al-Muthalib. “Dia adalah anak kakakku dulu, ayahnya adalah pemuka Mekah maka dia harus pulang untuk melanjutkan kekuasaan ayahnya menggantikan aku.”

Ketika Al-Muthalib bertemu Syaibah di Yatsrib, dia tersentak, “Anak ini benar-benar mirip Hasyim.”

“Mari nak ikut Paman ke Mekah,” Peluk Al-Muthalib.

“Tetapi jika ibu tidak mengizinkan pergi, aku akan tetap tinggal di sini,” jawab Syaibah.

 

Syaibah

Nama Syaibah diberikan karena ada rambut putih uban di kepalanya sejak dia kecil. Selain Syaibah, Hasyim telah memiliki empat  putra dan lima putri yang tinggal di Mekah.

 

Nama Abdul Muthalib

“Tidak, aku tidak akan membiarkannya pergi,” jawab Salma. “Dia buah hatiku satu-satunya, wajahnya yang senantiasa mengingatkan aku akan wajah ayahnya.”

“Aku juga menyayangi Hasyim,” jawab Al-Muthalib. “Bukan cuma itu, tetapi penduduk kota Mekah juga menyayanginya. Mereka pasti akan senang sekali menyambut kedatangan putra Hasyim, begitu melihat wajah anak ini rasa sayangku timbul kepadanya seolah-olah aku melihat Hasyim hidup kembali dan berdiri dihadapanku. Izinkan aku membawanya pergi. Sesungguhnya Mekah adalah kerajaan ayahnya dan Mekah adalah tanah suci yang dicintai oleh seluruh bangsa Arab, tidakkah pantas putramu pergi kesana dan melanjutkan pemerintahan ayahnya?.”

Salma memandang Syaibah dengan mata berkaca-kaca. Hatinya ingin agar putra satu-satunya itu tetap tinggal di sisi-nya namun dia tahu masa depan Syaibah bukan di Yatsrib melainkan di Mekah. Akhirnya dia pun mengangguk. “Baiklah, ku izinkan dia pergi.

Dengan amat gembira, Al-Muthalib mengajak keponakannya itu pulang. Syaibah duduk membonceng unta di belakang pamannya. Ketika mereka tiba di Mekah, orang-orang menyangka bahwa anak yang duduk di belakang Al-Muthalib adalah budaknya.

“Abdul Muthalib (budak Al Muthalib), Abdul Muthalib!” panggil mereka kepada Syaibah.

“Celaka kalian, dia bukan bundakku, dia anak saudaraku, Hasyim!”

Namun orang-orang terlanjur menyebutnya demikian sehingga akhirnya nama Syaibah pun terlupakan. Setelah itu, dia dikenal dengan nama Abdul Muthalib, dia kelak menjadi kakek Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Setelah tumbuh dewasa, Abdul Muthalib pun menjadi seorang pemuka Mekah sebagaimana Hasyim bapaknya.

Pada zaman pemerintahannya, Abdul Muthalib melakukan sebuah perbuatan yang akan dikenang orang sepanjang masa, apakah itu?.


Harta Abdul Muthalib

Setelah Hasyim meninggal, hartanya dikuasai oleh Naufal, adiknya yang terkecil. Ketika dewasa, Abdul Muthalib hendak meminta harta ayahnya tetapi Naufal menolak. Abdul Muthalib pun meminta bantuan kerabat ibunya yang tinggal di Yatsrib. Orang-orang Yatsrib mengirimkan delapan puluh pasukan berkuda. Naufal pun ketakutan dan menyerahkan harta Hasyim kepada Abdul Muthalib.

 

Menggali sumur zam-zam

Saat itu sumur zam-zam telah terkubur dan dilupakan orang selama ratusan tahun. Namun Abdul Muthalib tidak pernah lupa pada sejarah Mekah. Bahwa dulu pernah ada mata air yang menghidupi Mekah. Mata air yang memancar keluar oleh kaki Ismail.

“Aku harus menemukannya,” pikir Abdul Muthalib. “Aku harus menemukan kembali sumur zam-zam yang telah dilupakan orang, apalagi aku bertugas menyediakan air dan makanan bagi penduduk Mekah.”

Pikiran seperti itu tidak pernah hilang dari benaknya. “Aku harus menemukannya, aku harus menemukannya!”

Setelah itu Abdul Muthalib mengambil tembilang dan memanggil putra satu-satunya Harits. “Temani ayah mencari dan menggali kembali sumur zam-zam.”

Harits mengangguk kemudian mereka mulai mencari di mana dulu letak mata air zam-zam berada. Setelah beberapa kali mencoba menggali di beberapa tempat, sumur zam-zam tidak juga ditemukan.

“Ayah mungkin sumur zamzam memang telah hilang,” kata Harits.

“Tidak nak, Ayah yakin sumur itu masih ada, kita harus menemukannya. “Orang-orang Mekah akan hidup lebih baik jika sumur zamzam ada di tengah kita.”

Dengan gigih keduanya pun terus mencari. Orang-orang Quraisy penduduk asli Mekah, melihat perbuatan mereka dengan heran.

“Mengapa engkau masih terus menggali Abdul Muthalib? bukankah dulu kakek moyang kita Mudzaz bin Amr pernah menggalinya tapi tidak berhasil?”

Abdul Muthalib menaruh tembilangnya dan duduk, “Ya ratusan tahun yang lalu, Mudzaz bin Amr mertua Nabi Ismail pernah mencoba menggali zam-zam tapi tidak berhasil padahal saat itu Mudzaz telah mempersembahkan sesaji berupa pedang dan pelana berpangkal emas agar sumur zam-zam ditemukan.”

 

Sumber air Mekah

Abdul Muthalib adalah pengurus air dan makanan bagi tamu-tamu yang datang ke Mekkah. Setelah ratusan tahun sumur zam-zam tertimbun, air harus didatangkan dari beberapa sumur yang terpancar pancar di sekitar Mekah.

 

Menemukan Zam-Zam

Malam harinya dengan tubuh lelah Abdul Muthalib tidur. Tiba-tiba dalam tidur dia bermimpi mendengar suara yang bergema berulang-ulang. “Temukan sumur zam-zam itu wahai Abdul Muthalib, ditemukan sumur zamzam, temukan!”

Abdul Muthalib terbangun dengan keyakinan dan semangat baru. Esoknya dia mengajak harus menggali dan menggali dengan lebih giat. Rasa heran orang-orang Quraisy yang melihatnya berubah menjadi tawa.

“Kasihan Abdul Muthalib, mungkin dia sudah kehilangan akal sehatnya,” kata mereka satu sama lain.

Suatu saat, ketika mereka sedang menggali di antara berhala Isaf dan Na’ila air membersit.

“Air! Harits. Lihat ada air!” seru Abdul Muthalib saking kagetnya.

“Ayo kita gali terus ayah, ayo gali terus!”

Ketika mereka menggali lebih dalam, tampaklah pedang-pedang dan pelana emas yang pernah ditaruh oleh Mudzaz bin Amr dahulu. “Melihat penemuan itu, orang-orang Quraisy datang berbondong-bondong.

“Abdul Muthalib, mari kita berbagi air dan harta emas itu!” pinta mereka.

“Tidak, tetapi marilah kita mengadu nasib antara aku dan kamu sekalian dengan permainan qidh (anak panah) dua anak panah buat Ka'bah, dua buat aku dan dua buat kamu. Kalau anak panah itu keluar, dia mendapat bagian, kalau tidak dia tidak mendapat apa-apa.”

Usul itu disetujui. Juru qidh mengundinya di tengah-tengah berhala di depan Ka'bah. Ternyata anak panah Quraisy tidak ada yang keluar, pemenangnya adalah Abdul Muthalib dan Ka'bah. Karenanya dapatlah Abdul Muthalib meneruskan tugasnya mengurus air dan keperluan para tamu Mekah. Setelah sumur zam-zam memancar kembali, mengingat beratnya tugas itu, Abdul Muthalib sangat ingin agar dia mempunyai banyak anak laki-laki yang membantunya. Apakah keinginannya terkabul?.

 

Pedang dan Pelana Emas

Abdul Muthalib memasang pedang-pedang itu di pintu Ka'bah sedangkan pelana-pelana emas ditaruh di dalam rumah suci itu sebagai perhiasan.

 

 


Sumber : Muhammad Teladanku Jilid ke-Satu. Kelahiran Rasulullah Shallaahu ‘Alaihi Wasallam. Eka Wardhana dan Tim Syaamil Books

Posting Komentar