Berkisah, Sebelum Nabi Muhammad Shallaahu 'Alaihi Wasallam Lahir - Bagian 5

Senin, 25 Januari 2021

 


Silsilah Nabi Muhammad Shallaahu ‘Alaihi Wasallam

Kita kembali pada kisah Abdullah bin Abdul Muthalib yang tidak jadi disembelih karena telah ditebus ayahnya dengan seratus ekor unta.

Abdullah adalah pemuda yang berwajah tampan. Kegagahan fisiknya banyak menarik perhatian gadis-gadis Mekah. Apalagi setelah mereka tahu bahwa nyawa Abdullah telah ditebus dengan serratus ekor unta, suatu jumlah luar biasa yang tidak pernah dialami seorang pun sebelumnya. Walaupun banyak gadis yang berusaha menggodanya, kesopanan Abdullah tetap terjaga.

Abdullah adalah ayah Nabi Muhammad shallaahu ‘alaihi wasallam. Berikut ini adalah silsilah Nabi Muhammad shallaahu ‘alaihi wasallam.



Khadijah

Di dalam silsilah di atas akan kita lihat nama Khadijah. Khadijah adalah istri Nabi Muhammad Shallaahu ‘alaihi wasallam. Nabi Muhammad dan Khadijah berasal dari nenek moyang yang sama, yaitu Qushay. Karena berkerabat sebagai sepupu jauh, Khadijah pernah memanggil Nabi Muhammad dengan sebutan “Wahai putra pamanku.”

 

Gadis yang Meminang

Sesaat setelah penebusan Abdullah, Abdul Muthalib menggandeng tangan putranya menuju rumah Wahb bin Abdul Manaf. Wahb mempunyai seorang putri bernama Aminah. Abdul Muthalib sudah sepakat dengan Wahb untuk menikahkan putra-putri mereka.

Namun di tengah jalan, seorang gadis cantic menegur Abdullah, “Engkau akan pergi kemana wahai Abdullah?”

“Aku akan pergi bersama ayahku.”

Tanpa memedulikan Abdul Muthalib, gadis itu berkata, “Kulihat engkau memang dituntun ayahmu, tak ubahnya seperti seekor unta yang akan disembelih. Demi engkau, aku akan menerimamu jika engkau mau menikahiku sekarang juga.”

Abdullah terperangah. Dia menatap gadis itu dengan gugup.

“Siapakah gadis ini?” pikir Abdullah. “Dilihat dari pakaiannya yang dipenuhi perhiasan mahal, ia pasti seorang gadis bangsawan. Matanya yang hitam memancarkan sinar yang teduh seperti yang biasa dimiliki gadis-gadis berperangai lemah lembut dan penuh kasih saying. Apa yang harus kukatakan kepadanya?”

Ketika Abdullah menoleh kepada ayahnya, dilihatnya Abdul Muthalib memberi isyarat agar Abdullah terus melangkah dan tidak menggubris dan gadis.

“Aku bersama ayahku, aku tak kuasa menolak kehendaknya dan berpisah dengannya.”

Abdullah kembali berjalan bersama ayahnya, hatinya pun dipenuhi rasa iba dan simpatinya kepada gadis yang ditinggalkannya. Hari itu juga, Abdul Muthalib datang ke rumah Wahb bin abdi Manaf. Mereka sepakat menjodohkan Abdullah dengan Aminah.

Keesokan harinya, Abdullah bertemu lagi dengan gadis yang kemarin. Abdullah menyapanya, “Mengapa engkau tidak menyapaku seperti kemarin?”

Gadis itu menjawab dengan ketus, “Sinar berseri-seri yang kemarin kulihat pada wajahmu sudah tidak ada lagi karena itu sekarang aku sudah tidak membutuhkanmu!”

 

Sinar Kenabian

Sinar berseri-seri yang dilihat sang gadis pada wajah Abdullah. Menurut sebagian ahli sejarah adalah sinar kenabian yang akan diturunkan Allah kepada putranya ketika dijodohkan dengan Aminah, gadis itu tidak dapat lagi berharap akan memiliki putra yang kelak menjadi nabi.

 

Pernikahan Abdullah dengan Aminah

Allah sudah menentukan bahwa jodoh yang paling tepat untuk Abdullah adalah Aminah binti Wahb. Aminah adalah gadis yang paling baik keturunan dan kedudukannya di kalangan suku Quraisy.

Musim semi tahun 570 masehi pun tiba, batang-batang gandum di Yaman tumbuh menjulang tinggi. Daun dan kurma di kota Thaif kembali bersemi. Sementara itu padang-padang rumput dipenuhi harum bunga bunga yang tumbuh di kebun-kebun.

Bagi penduduk Mekah, musim semi adalah tanda kebebasan dan dimulainya lagi perdagangan musim panas ke Syria. Abdullah pun berniat pergi musim ini.

“Kanda, sebenarnya hatiku sangat berat melepas kepergianmu, entah mengapa hatiku diliputi kekhawatiran dan kegelisahan. Aku bahkan berharap dapat menemukan suatu alasan untuk menahan kepergianmu,” keluh Aminah kepada suaminya.

Abdullah tersenyum menentramkan. “Hatiku pun terasa tertinggal di sini dinda, aku tahu begitu besar rasa sayangmu kepadaku sehingga engkau berharap dapat terus berada disisiku.”

“Bukan cuma itu, damai rasanya berada disampingmu kanda.”

Abdullah mengangguk, “Tetapi dinda, kini di dalam perutmu ada bayi. Kita tahu aku adalah pemuda tak berada saat ini, kita hanya mempunyai lima ekor unta dan beberapa kambing. Selain itu, tidak ada lagi kekayaan yang dapat menghidupi kita berdua selain sedikit kurma dan daging kering. Karena itu inilah saatnya bagi kita untuk pergi berniaga dan menambah penghasilan kita.”

Aminah terpaksa mengangguk menerima kenyataan itu. Dia memandang kepergian Abdullah dengan sendu. Seolah saat itu adalah detik-detik terakhir dia dapat melihat wajah suaminya apa yang dirasakan Aminah pun terbukti.


Hamzah bin Abdul Muthalib

Pada hari pernikahan Abdullah dengan Aminah, Abdul Muthalib pun menikahi sepupunya yang bernama Hala. Dari perkawinan ini lahirlah Hamzah paman Rasulullah shallaahu álaihi wa sallam yang seusia dengan beliau.


Wafatnya Abdullah

Bersama kafilah dagang, Abdullah tiba di Gaza kemudian dalam perjalanan pulang, ia singgah di Yatsrib. Di sana ia tinggal bersama saudara-saudara ibunya namun ketika kawan-kawannya dari Mekah hendak mengajaknya pulang, Abdullah jatuh sakit.

“Rasanya aku tak akan kuat menempuh perjalanan pulang,” kata Abdullah kepada kawan-kawannya. “Kalian berangkatlah dan sampaikan pesan kepada ayahku bahwa aku jatuh sakit.”

Kawan-kawannya mengangguk, “Akan kami sampaikan pesanmu. Baik-baiklah engkau disini.”

Kafilah Mekah pun beranjak pulang. Ketika tiba di rumah, mereka menyampaikan pesan Abdullah kepada Abdul Muthalib.

“Harits!” panggil Abdul Muthalib kepada putra sulungnya. Pergilah ke Yatsrib, lihatlah keadaan adikmu. Jika sudah sembuh, jemputlah ia pulang.”

Harits pun segera berangkat. Ketika tiba di rumah paman-pamannya di yatsrib, yang ditempuhnya adalah wajah-wajah duka.

“Abdullah telah meninggal,” kata mereka kepadanya, “mari kami antar engkau pusaranya.”

Haris pun menyampaikan berita sedih itu ke Mekah. Melelehlah air mata di pipi Abdul Muthalib, namun kesedihan yang paling berat dirasakan oleh Aminah. Apalagi saat itu ia telah menantikan kelahiran bayinya.

“Selamat jalan kanda,” isak Aminah,  “hilanglah seluruh kebahagiaan hidupku bersamamu. Kini, tinggalah aku yang hidup untuk membesarkan bayi kita.”

Tak lama lagi, bayi Aminah akan lahir. Bayi Aminah akan lahir. Bayi yang kelak ditakdirkan Allah menjadi orang besar yang mengubah jalannya sejarah dunia.

 

Peninggalan Abdullah

Saat meninggal, peninggalan Abdullah berupa lima ekor unta, sekelompok ternak kambing dan seekor kuda perempuan bernama Ummu aiman yang telah menjadi pengasuh Rasulullah shallaahu ‘alaihi wa sallam,nama aslinya adalah Barakah, ia berasal dari Habasyah.

 

Sumber : Muhammad Teladanku Jilid ke Satu. Kelahiran Rasulullah Shallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Eka Wardhana dan Tim Syaamil Books.

Posting Komentar