Pengalaman Khitan Amin Saat Masih Dua Tahun

Selasa, 12 Januari 2021

 


Amin, si sulung yang sudah dikhitan saat dua tahun kini sudah tiga tahun lebih dua bulan. Jadi sudah berlalu satu tahun dua bulan. Saya dan suami mengkhitan Amin atas dasar kesehatannya, kami ingin ia lebih sehat. Nafsu makannya dari usia satu setengah tahun tidak berangsur baik. Amin makan hanya sedikit makan, ngemilpun kurang. Saya menemukan akun instagram seorang dokter gizi yang memberikan edukasi pada orang tua tentang gizi yang di dalamnya tentang makanan pendamping ASI, aturan waktu makan, serta data lain seputar gizi dan tumbuh kembang anak. Saya telusuri akunnya dengan membaca highlight nya. Banyak hal yang terlewat saat Amin memulai MPASI (Makanan Pendamping ASI) sampai usianya akan genap dua tahun. Ada dua bulan lagi yang harus saya kejar untuk kebutuhan gizinya. 

Dua bulan yang singkat untuk memulai memerbaiki pola makannya. Saat ia mengalami eksim (eczema) usia satu bulan dan saat sudah memasuki enam bulan, banyak kekhwatiran memberikan makanan yang akan memicunya timbul ruam-ruam lagi di wajahnya. Bisa dikatakan saya stress menghadapi eksim tersebut. Faktor eksternal dan internal yang mengharuskan saya tutup telinga maupun tidak nyenyak untuk tidur dimalam hari atau menjaga tangannya agar tidak menggaruk menyebabkan fikiran saya tak karuan. Alhasil makanan yang saya konsumsi saat masih menyusui dan Amin konsumsi saat sudah enam bulan menjadi terbatas. Saya menghindari makanan laut dan makanan lain yang sekiranya mengandung alergi untuk Amin. Sampai eksim itu hilang ketika Amin satu tahun. Saya yang kurang pengetahuan tentang MPASI menjadikan saya tidak terlalu memerhatikan asupan gizinya. Amin makan sesuai jam makan orang tuanya, saya jarang memberikan camilan berupa buah, roti atau lainnya. 

Sampai suatu hari saat Amin satu setengah tahun, Amin harus masuk rumah sakit karena demam yang tak kunjung membaik beberapa hari. Demamnya tidak beraturan selama sembilan hari dan saat periksa ke dokter, dokter tanpa menunggu lama beliau langsung merujuk ke rumah sakit untuk opname. Di rumah sakit Amin dirawat selama tiga hari, dilihat dari hasil laboratorium dengan leukositnya (darah putih) dua kali lipat tinggi dari jumlah normal, dokter mengatakan demamnya bisa dikarenakan virus atau bakteri, jadi belum pasti apa penyebab demam tersebut. 

Berjalannya waktu, sesuai saran dokter saya berikan susu formula. Sebelumnya mulai awal MPASI saya tidak memberikan susu formula karena khawatir alergi, tetapi saya pernah memberikan susu formula soya pada Amin tapi ia tolak, akhirnya saya tidak pernah berikan ia susu formula lagi. 

Ketika usia Amin dua tahun kurang dua bulan, saya mulai memerhatikan akun instagram dokter gizi dr. Metahanindita, Dari situ saya banyak dapatkan ilmu soal  gizi anak. Tiga hari tiga malam saya memelajari ilmu gizi dari beliau. Saya galau sampai terus memikirkan cara pemberian makanan pada Amin. Dr. Metahanindita juga menyarankan untuk berkonsultasi pada dokter anak jika ada keluhan pertumbuhan. Beberapa hari setelah saya pelajari ilmu dari beliau, saya meminta izin suami untuk berkonsultasi pada dokter anak. Saya datangi dokter anak, dan setelah dilakukan pengecekan kalau Amin tinggi badannya normal sedangkan berat badannya terbilang kurang atau kurang gizi. Saya sangat menyadari kalau selama ini tidak maksimal untuk urusan gizi ini. Saya juga berkonsultasi mengenai khitan karena khawatir Amin terkena fimosis.

Dokter anak yang saya datangi menyarankan saya untuk Amin melakukan tes darah. Besoknya saya lakukan tes darah dan menyerahkan hasilnya, didapatkan hasil leukositnya agak tinggi dari jumlah normal. Buah dari konsultasi dengan dokter saya diminta untuk melakukan cara pemberian makan yang dianjurkan oleh IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia). Dua bulan berlalu tapi Amin masih belum bisa diajak kerjasama untuk bisa makan bersama dan makanpun hanya sedikit sekali.  Sampai akhirnya saya berkonsultasi pada suami tentang mengkhitankan Amin. Saya pun dilanda kegalauan lagi, apakah secepat ini, tapi berusaha meyakinkan diri semoga dengan berkhitan pertumbuhan Amin bisa lebih baik. 

Diumurnya yang masih dua tahun lebih satu hari, kami datang ke dokter anak yang sebelumnya menangani Amin untuk dikhitan, beliau dokter anak juga bisa mengkhitan anak. Selama proses khitan Amin menangis, ia tidak terbiasa untuk dipegang kemaluannya oleh orang lain. Dokter melakukan khitan dengan metode laser. Saya yang melihatnya tak tega, semoga itu yang terbaik. Pasca dikhitan karena masih ada efek bius, Amin mulai tenang, saat kembali ke rumah Amin bisa lari-lari dan salto. Saat efek biusnya sudah hilang, Amin kembali kesakitan dan terus menangis. 

Proses penyembuhan sampai benar-benar sembuh pasca khitan Amin adalah dua pekan. Tak mudah melewati dua pekan saat proses pemulihan. Pekerjaan rumah yang harus diselesaikan ditambah kondisi Amin yang masih belum pulih mengharuskan saya harus banyak bersabar. Sepekan kemudian pasca khitan kami kontrol ke dokter yang mengkhitan Amin, dan dikatakan masih basah. Saat pipis, Amin masih menangis dan saat ia mandi, saya lakukan dengan hari-hati. Pemberian salep pun saya lakukan ketika Amin tertidur. Masa yang penuh perjuangan bagi saya untuk melewatinya, saya terus menanti sampai benar-benar sembuh. Saya juga banyak bertanya pada kakak sepupu tentang perawatan luka khitan karena putranya sudah dikhitan pada usia yang sama.

Saya berfikir kalau bukan anaknya sendiri yang menginginkan khitan sebaiknya tidak dilakukan khitan kecuali khitan tersebut dilakukan saat ia masih bayi. Dilansir dari Artikel Parentalk, "Usia Terbaik Sunat Anak Laki-laki" menyebutkan, "Semakin muda, semakin baik. Usia yang direkomendasikan adalah dibawah 12 bulan,"- dr. Arifianto, Sp.A. Waktu optimal sunat adalah neonatus (28 hari pertama kehidupan bayi) berdasarkan jurnal yang dibuat Brian J. Morris, dkk. dan diterbitkan di The National Center for Biotechnology Information. Sunat aman dilakukan di usia berapun karena memiliki manfaat yang besar. Menurut dr. Apin, salah satu keuntungan sunat pada bayi laki-laki adalah mengurangi risiko penyakit Infeksi Saluran Kemih (ISK). Ini karena ISK paling rentan terjadi pada bayi laki-laki yang tidak disunat. Manfaat lainnya khitan pada bayi adalah:

1. Perlindungan segera dari penyakit peradangan kulit penis.
2. Resiko komplikasi pembedahan lebih rendah.
3. Resiko komplikasi bius lebih rendah.
4. Kemudahan prosedur karena bayi belum banyak bergerak.

Kalau saya tahu lebih awal tentang manfaat khitan sebelum Amin lahir, mungkin saya akan mengkhitan sebelum ia satu tahun atau diawal kelahirannya. Akhirnya saya belajar lagi dari pengalaman ini, dan Aminlah guru pertama saya dalam merawat, mengasuh dan mendidik anak. Guru pertama yang berkesan untuk saya bersama suami karena kami melewati rasa, keadaan menjadi orang tua baru. 

Setelah sekitar dua bulan pasca khitan, pola makan dan nafsu makan Amin berangsur membaik. Amin mau makan dengan porsi yang lebih banyak dari sebelumnya, ia pun mau minum susu formula. Semakin kesini sampai sekarang, ia makan utama dan minum susu bisa sampai tiga kali sehari ditambah dengan camilan. Tinggi badan dan berat badannya bertambah meski badannya masih terlihat belum bertambah besar tapi saya syukuri karena hilang ketakutan saya tentang stuntingStunting menunjukkan kekurangan gizi kronis yang terjadi selama periode paling awal pertumbuhan dan perkembangan anak - alodokter.com. Kalau sudah memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, maka akan berpengaruh pada kecerdasannya, saya khawatir akan berdampak sampai Amin besar. 

Sebelum ibu memutuskan untuk mengkhitankan anak karena nafsu makan, ibu bisa mencari tahu penyebab anak hilang nafsu makan. Berikut keadaan yang dijelaskan dokter Prapti Utami mengenai penyebab anak jadi tidak nafsu makan. 


1. Kondisi badan anak sedang tidak sehat, lesu, dan daya tahan tubuhnya menurun.
2. Ada gangguan pada sistem pencernaannya, misal lagi sariawan, kembung, mual sampai muntah, dan sembelit.
3. Adanya gangguan psikologis pada anak-anak tertentu, seperti stress dengan lingkungan di rumah.
4. Efek samping obat, seperti antibiotik yang kadang membuat anak malas makan karena merasa mual. 
5. Masa pemulihan setelah sakit juga berpengaruh.
6. Adanya penyakit tertentu pada anak seperti kurang gizi, anemia, tifus, dan cacingan. 

Ibu juga sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak jika terjadi kelainan pada anak, apakah perlu dilakukan khitan atau tidak, karena kasus fimosis tidak semuanya harus khitan.

Di tempat saya tinggal sekarang, khitan pada anak dibawah Sekolah Dasar masih menjadi sesuatu yang tidak biasa. Anak-anak akan dikhitan minimal sudah masuk Sekolah Dasar dan akan diadakan pesta atau syukuran dengan mengundang banyak orang. Sayapun berfikir demikian, tapi saya belum siap menjawab pertanyaan yang akan bertubi-tubi datang tentang mengkhitankan Amin terlebih Amin belum bisa menjadi pengantin khitan yang anteng dan semoga suatu hari nanti kami mempunyai rumah sendiri untuk diadakan syukuran yang lainnya. Aamiin yaa rabbal'aalamiin.

Semoga bermanfaat ibu dan bunda semuanya!.

https://www.liputan6.com/health/read/3099696/6-penyebab-anak-kehilangan-nafsu-makan#:~:text=1.,stres%20dengan%20lingkungan%20di%20rumah.

Posting Komentar