Antara Jerman dan Dia. Aku Pilih Dia Untuk Sama-Sama Terbang Menjelajah Eropa.

Sabtu, 27 Maret 2021

Setiap orang pasti punya mimpi-mimpi di dalam hidupnya. Betapa tidak, mimpi membuat setiap orang bergairah, bersemangat dan punya harapan hidup lebih baik. Mimpi-mimpi itu akan berubah menjadi kenyataan saat mereka mau berusaha meraih mimpi itu. Saya pun sama, punya banyak mimpi, diantaranya ingin belajar di negeri orang, menikmati suasana berbeda serta belajar kebudayaannya.

Sejak masih kuliah, punya cita-cita ingin belajar di Yaman. Kemudian datang mimpi yang menunjukkan untuk belajar di Madinah. Ah, lamunanku tentang Makkah, Madinah mengharuskan saya punya mahram dulu. Meski sempat ditawarkan untuk ta'aruf dengan ikhwan yang sedang mengenyam pendidikan di sana, tapi kala itu belum siap untuk menikah. 

Setelah selesai kuliah, saya mengajar di Sekolah Dasar di Jakarta Utara. Selang beberapa bulan setelah teman mengabarkan beasiswa Brunei Darussalam, saya tertarik untuk mendapatkan beasiswa itu, kemampuan Bahasa Inggris pun harus dikuasai. Saya mencoba untuk mengirimkan berkas persyaratan yang diminta. Karena kampus Internasional yang mewajibkan penggunaan Bahasa Inggris, saya memutuskan untuk belajar Bahasa Inggris di Pare Kediri atas saran teman. Saya kembali lagi ke Pare, sebelumnya saat program kampus Kuliah Kerja Nyata semester delapan, kami berangkat ke Pare.

Saya resign setelah delapan bulan mengajar di sekolah. Saya berangkat ke Pare dan belajar selama sembilan bulan. Disela-sela belajar Bahasa Inggris, saya terus memantau dan mengirim ulang persyaratan yang diminta. Dikesempatan sebelumnya belum ada pengumuman yang menyatakan saya lolos beasiswa, saya mencoba untuk kedua kalinya, tapi ternyata belum lolos juga.

Di Pare saya mengenal sosok seorang yang bersahaja dan sederhana. Ia adalah guru Bahasa Inggris saya di kelas. Ia yang kini menjadi teman seperjuangan dan ayah dari anak-anak saya. Kami menikah setelah dinyatakan lolos mendapatkan beasiswa "Au-Pair" ke Jerman.

Au-Pair itu semacam program pekerjaan yang lebih mirip dengan pertukaran budaya. Kita akan mendapat keluarga asuh sebagai seseorang yang membantu pekerjaan mereka, seperti pekerjaan rumah ringan, menjaga anak-anak mereka, mengantar dan menjemput anak-anak dari sekolah. Kita juga diberi waktu untuk belajar bahasa lanjutan sampai B1. Seseorang yang ikut Au-Pair juga diberi uang saku setiap bulan.

Tujuan seseorang yang ikut Au-Pair untuk mengenalkan budaya negara tertentu, biasanya di Eropa sebelum akhirnya mengambil masa studi di Universitas yang diinginkan.

Ketika diawal ikut program ini, lebih ditekankan beasiswa ketimbang Au-Pair nya. Dengan kata "Beasiswa", banyak orang yang tertarik. Pada saat itu saya belum menikah. Saya tahu info ini dari calon suami saya dulu. Ia juga mengajak empat teman lainnya. Kami sama-sama mengikuti persyaratan yang diminta sampai akhirnya tiga orang dari kami dinyatakan mendapatkan beasiswa tersebut.

Penyelenggara beasiswa ini adalah Educhange Indonesia yang beralamatkan di Surabaya. Sebuah agen Au-Pair yang menamakan dirinya sebagai penyalur beasiswa ke Eropa, yaitu Belanda, Jerman, Austria dan Finlandia. Semua orang yang dinyatakan mendapatkan beasiswa ini terbagi menjadi dua kelompok, conditional dan unconditional. Kedua kelompok tersebut yang dibagi menjadi penerima beasiswa bersyarat dan tidak bersyarat. Huft, kalau diceritakan detail agak rumit.

Kami bertiga dinyatakan uncoditional, tapi diminta untuk membayar sejumlah uang yang lumayan besar. Satu teman saya tidak bersedia untuk membayar uang tersebut, tapi bisa tetap mengikuti program beasiswa ini. Tujuan kami adalah ke negara Jerman, negeri yang pernah menjadi saksi sejarah bapak BJ. Habibie. Duh, kita yang bodoh sampai tertipu atau benar-benar polos sampai kami berdua membayar sejumlah uang itu. Dimana-mana program beasiswa itu bebas biaya, malah kita yang akan dapat uang saku. 

Ada hal yang ganjil juga sebenarnya, karena beasiswa tidak wajib tes kemahiran bahasa. Harusnya kita lebih waspada dengan model beasiswa semacam ini. Jadi, hal yang wajar kalau penyelanggara beasiswa meminta syarat TOEFL atau IELTS. Itu untuk mengukur kemampuan bahasa kita jangan sampai kita buat penyelenggara beasiswa kalau kita ga bisa bahasa asing.

Singkat cerita, kami dipanggil kembali untuk program selanjutnya dan pihak keluarga harus hadir. Sebelum itu, calon suami sudah meminta izin orang tuanya untuk menikahi saya, dan alhamdulillah mendapat restu dari beliau-beliau. Jadilah saat program selanjutnya, keluarga saya dan keluarga calon bertemu. Karena jarak Surabaya dan Kediri dekat, keluarga calon suami meminta keluarga saya untuk ikut ke Kediri dengan tujuan membicarakan langkah selanjutnya. Bukan keluarga saya yang meminta untuk ke Kediri ke rumah calon dan meminang calon suami, justru keluarga saya yang diminta ke rumahnya.

Setelah sampai di rumah calon suami, kami beristirahat setelah itu kami mengadakan pertemuan pada malam harinya, dan didapatkan waktu ijab qobul. Setelah menikah, saya dan suami mengikuti karantina di Surabaya sebelum keberangkatan ke Jerman. Semasa karantina, kami tinggal di sebuah rumah yang kami sewa bersama teman lainnya. Kami belajar bahasa Jerman, kebudayaan, keuangan, make up, public speaking, psikologi, dan lainnya. 

Suatu hari, kami mendapat kabar mengejutkan setelah dua bulan mengikuti karantina. Kami harus mengencel keberangkatan ke Jerman. Ada hal tertentu yang tidak bisa kami tolak, khususnya saya yang sudah dipinang olehnya, saya harus ikut, manut. Sejumlah uang puluhan juta masuk ke Educhange dan saya harus pulang. Mimpi untuk menginjakkan kaki di Jerman belum terwujud. Saya harus taat ikut suami, kini saya tidak lagi single. 

Menjadi single berat, menikahpun berat, sama-sama berat, jadi pilihlah mana pilihan kita. Kalau saya lebih berat single, karena ga ada temen buat bersandar saat sedih, ga ada teman buat merangkul saat bahagia.

Setelah cancel dari karantina dan tidak berangkat ke Jerman, saya dan suami kembali ke tempat suami yang menjadi salah satu pengelola lembaga kursus Bahasa Inggris di Pare. Suami dan saya sama-sama menjadi pengajar meski saya belum percaya diri untuk mengajar anak-anak dewasa karena biasanya saya mengajar anak-anak usia taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Setelah beberapa bulan, kami dikaruniai seorang malaikat kecil penyejuk hati. Sayapun fokus untuk merawat baby. Setelah ia berusia tiga tahun dua bulan, lahir kembali anak kedua kami menambah kelengkapan keluarga kecil kami. Sepasang "perfect gift from Allah", yang sangat kami syukuri kehadirannya.

Mujahid dan mujahidah bersama kami, kami terus belajar dan belajar menjadi orang tua yang shalih dan shalihah serta sabar dalam merawat, membimbing dan mendidik mereka. Semoga anak-anak kami menjadi pribadi yang taat pada Allah, berbakti pada orang tua, baik pada keluarga dan bermanfaat bagi sesama manusia. 

Ada rencana lain mengapa saya tidak berangkat ke Jerman, Allah menjaga saya dari hal-hal jahat yang mungkin saja terjadi disana. Allah hadirkan seorang suami yang sangat baik, humoris, dermawan dan penyabar. Allah lengkapi kekurangan saya dengan kehadirannya. Kami saling melengkapi satu sama lain. Darinya saya banyak belajar tentang hidup, untuk apa hidup ini. Kini, saya punya tujuan jelas. Merawatnya juga merawat anak-anak. 

Semoga suatu saat, kami bisa menjelajah dunia bersama. Bukan sekarang, semoga nanti. Kami terus berdo'a, semoga suatu saat bisa menjelajah dunia yang Allah ciptakan untuk manusia jelajahi keberadaannya. Aamiin.









Posting Komentar